Trump Diduga Siapkan “Bongkar Pasang” Diplomatik, 30 Pos Luar Negeri AS Terancam Ditutup

- Penulis Berita

Kamis, 17 April 2025 - 09:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Trump

Trump

mediarelasi.id Washington D.C. tengah bergolak oleh kabar mengejutkan: pemerintahan Presiden Donald Trump diduga sedang menggodok rencana penutupan hampir 30 kedutaan dan konsulat Amerika Serikat di seluruh penjuru dunia. Informasi ini terendus setelah dokumen internal Departemen Luar Negeri bocor ke tangan CNN.

Langkah ini bukan sekadar penghematan, melainkan bagian dari ambisi reformasi besar-besaran dalam tubuh birokrasi federal. Di balik layar, Departemen Efisiensi Pemerintahan—unit yang kabarnya didukung langsung oleh Elon Musk—tengah mendorong perampingan radikal terhadap kehadiran diplomatik Negeri Paman Sam.

Dokumen menyebutkan sebanyak 27 pos diplomatik disarankan untuk ditutup: 10 kedutaan dan 17 konsulat. Lokasinya tersebar luas, dari Eropa hingga Karibia, dari jantung Afrika hingga Asia Timur. Negara-negara seperti Malta, Luksemburg, Lesotho, Republik Afrika Tengah, hingga Sudan Selatan masuk daftar yang akan kehilangan kehadiran resmi AS.

Baca Juga:  Indonesia Tawarkan Jalan Tengah yang Menguntungkan dalam Negosiasi Dagang dengan AS

Yang tak kalah mencengangkan, lima konsulat di Prancis ikut dalam daftar ‘korban kebijakan’, bersama dua di Jerman, dua di Bosnia dan Herzegovina, serta masing-masing satu di Inggris, Afrika Selatan, dan Korea Selatan.

Jika rencana ini berjalan, tugas-tugas kedutaan dan konsulat akan dialihkan ke kantor diplomatik di negara tetangga—sebuah skema yang disebut “konsolidasi strategis”. Namun, hingga kini belum jelas apakah Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah menandatangani rencana ini.

Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Tammy Bruce, memilih bungkam saat dimintai konfirmasi. Ia menegaskan bahwa dokumen seperti ini kerap kali bersifat tentatif dan belum tentu mencerminkan keputusan akhir. Bruce menyarankan agar pertanyaan diarahkan langsung ke Gedung Putih atau Presiden Trump sendiri.

Baca Juga:  Bos IMF: Dunia Bisa Selamat dari Bayang-Bayang Resesi

Yang menarik, dari semua pos yang disebutkan dalam dokumen, hanya dua yang sejauh ini diumumkan akan memiliki duta besar baru—Malta dan Luksemburg—membuat publik bertanya-tanya: apakah ini pertanda, atau justru pengecualian?

Jika benar langkah ini dijalankan, dunia bisa menyaksikan salah satu pergeseran paling dramatis dalam wajah diplomasi Amerika modern. Dan untuk negara-negara yang selama ini bergantung pada kehadiran fisik AS, ini bisa jadi awal dari era diplomatik yang lebih sunyi.

Berita Terkait

Presiden Prabowo Disambut Hangat oleh Putra Mahkota Arab Saudi
Veteran AS Lebih Rentan Masuk Penjara, Terapi Kuda Jadi Harapan Baru
Perjalanan Spektakuler Melintasi 50 Terowongan dan 77 Jembatan di Taiwan
Iran Desak Negara-Negara Islam Bersatu Hadapi Agresi Israel
Israel Gempur Teheran, Iran Balas dengan Serangan Rudal ke Galilea
Modi Tinjau Langsung Lokasi Jatuhnya Air India AI‑171 di Ahmedabad
Kerusuhan di Los Angeles, Wali Kota Terapkan Jam Malam Akibat Protes Kebijakan Imigrasi Trump
Hamas Ragukan Seriusnya Ajakan Gencatan Senjata Israel dan AS
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 4 Juli 2025 - 12:31 WIB

Presiden Prabowo Disambut Hangat oleh Putra Mahkota Arab Saudi

Senin, 16 Juni 2025 - 13:20 WIB

Veteran AS Lebih Rentan Masuk Penjara, Terapi Kuda Jadi Harapan Baru

Senin, 16 Juni 2025 - 13:00 WIB

Perjalanan Spektakuler Melintasi 50 Terowongan dan 77 Jembatan di Taiwan

Senin, 16 Juni 2025 - 12:49 WIB

Iran Desak Negara-Negara Islam Bersatu Hadapi Agresi Israel

Minggu, 15 Juni 2025 - 12:16 WIB

Israel Gempur Teheran, Iran Balas dengan Serangan Rudal ke Galilea

Berita Terbaru