Teriakan Warga Bojongkulur Minta Aksi Nyata, Bukan Janji

- Penulis Berita

Selasa, 6 Mei 2025 - 14:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bojongkulur

Bojongkulur

mediarelasi.idBojongkulur kembali bersuara. Bukan dengan amarah, tapi dengan harapan yang lantang. Sekitar 3.000 warga Vila Nusa Indah, Desa Bojongkulur, Gunungputri, Bogor, turun ke jalan dalam Aksi Damai yang penuh makna pada Minggu, 4 Mei 2025. Di tangan mereka, spanduk terbentang jelas: “Kami Tidak Mau TENGGELAM Lagi. Kami Minta PERCEPATAN Normalisasi Sungai Cileungsi-Cikeas.”

Langkah demi langkah dalam long march yang mereka lakukan dari lingkungan masing-masing bukan sekadar prosesi, tapi simbol keputusasaan yang berubah menjadi gerakan.

Setiap banjir datang, rumah hanyut, harapan tergenang, dan hidup terguncang. Kini, mereka menuntut satu hal: tindakan nyata, bukan janji tanpa akhir.

Baca Juga:  KPU Sulawesi Tenggara Kembalikan Sisa Anggaran Pilkada Rp40,7 Miliar ke Kas Daerah

Puarman, Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C), berdiri di tengah massa Bojongkulur dengan suara tegas namun terbata oleh keprihatinan.

“Kami mengapresiasi langkah cepat BBWSCC selama ini dalam penanganan darurat. Tapi kami tidak bisa terus hidup dengan sekadar penanganan sementara,” ungkapnya.

Bojongkulur

Ia menyoroti tahapan normalisasi yang dirancang pemerintah—dimulai dari penyiapan lahan hingga konstruksi pada tahun 2028—sebagai proses yang terlalu lambat untuk bencana yang bergerak cepat. Terlebih, menurut data BMKG, banjir yang dulunya bersiklus lima tahunan kini berpotensi menjadi tiga tahunan, bahkan tahunan.

Baca Juga:  Parkir Liar di Sekitar Plaza Patriot Candrabhaga Masih Marak, Warga Keluhkan Minimnya Penindakan

“Jika tidak ada percepatan, bukan tidak mungkin tahun 2028 nanti kami justru sudah tenggelam sebelum alat berat sempat turun,” kata Puarman dengan nada getir.

Aksi Damai ini dipuncaki dengan pembacaan Surat Terbuka yang ditujukan langsung kepada Presiden RI, Gubernur Jawa Barat, dan Bupati Bogor. Syamsudin, Koordinator Aksi, menegaskan bahwa ini bukan sekadar protes, melainkan seruan warga yang sudah terlalu lama hidup dalam ancaman air bah.

“Besok, surat ini akan kami antar sendiri ke tangan para pemimpin. Kami ingin mereka membaca dengan hati, bukan hanya mata,” ujarnya menutup aksi.

Berita Terkait

Hari Kedua Bina Desa 2025: Kolaborasi Sehat, Literasi Hukum, dan Penguatan Petani
Bina Desa 2025 HMPSIH UNPAR: Mahasiswa Hukum Turun Tangan dalam Penguatan Sosial dan Hukum Masyarakat Desa
Angin Segar Transportasi Udara Jember: Bandara Notohadinegoro Aktif Lagi Mulai 17 Agustus
BMKG Catat Gempa M 4,7 di Laut Talaud, Sulawesi Utara
Pertamina Gandeng Seruni Bangun 16 Titik Air Bersih di Sragen
Pemprov DKI Ringankan Pajak Hotel dan Restoran, Bebaskan Denda PKB hingga Akhir Agustus
Kecelakaan Maut di Tol Pasuruan Probolinggo, Polisi Telusuri Penyebab Tabrakan
Polisi Kejar Lima Otak Utama Penyelundupan Benih Lobster Senilai Rp9,2 Miliar
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 19:01 WIB

Hari Kedua Bina Desa 2025: Kolaborasi Sehat, Literasi Hukum, dan Penguatan Petani

Rabu, 27 Agustus 2025 - 17:50 WIB

Bina Desa 2025 HMPSIH UNPAR: Mahasiswa Hukum Turun Tangan dalam Penguatan Sosial dan Hukum Masyarakat Desa

Senin, 11 Agustus 2025 - 13:43 WIB

Angin Segar Transportasi Udara Jember: Bandara Notohadinegoro Aktif Lagi Mulai 17 Agustus

Jumat, 4 Juli 2025 - 10:30 WIB

BMKG Catat Gempa M 4,7 di Laut Talaud, Sulawesi Utara

Kamis, 19 Juni 2025 - 09:50 WIB

Pertamina Gandeng Seruni Bangun 16 Titik Air Bersih di Sragen

Berita Terbaru