Soeharto dan Gus Dur Masuk Radar Gelar Pahlawan Nasional, Menanti Putusan Akhir Presiden

- Penulis Berita

Kamis, 1 Mei 2025 - 17:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Soeharto

Soeharto

mediarelasi.id — Dua sosok penting dalam sejarah Republik Indonesia, Presiden ke-2 Soeharto dan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), kini resmi masuk dalam radar penerima Gelar Pahlawan Nasional tahun 2025. Nama keduanya tengah dibahas intensif oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) dan kini menunggu penilaian akhir dari Dewan Gelar.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Ipul, menyebut bahwa secara normatif Soeharto telah memenuhi seluruh persyaratan administratif untuk dianugerahi gelar kehormatan tertinggi bagi warga negara Indonesia. Namun, ia menekankan bahwa proses seleksi belum rampung.

Baca Juga:  PMI Terus Salurkan Bantuan ke Korban Erupsi Gunung Lewotobi, Jusuf Kalla: Kami Tidak Akan Berhenti

“Pak Harto dan Gus Dur sama-sama punya peluang. Semua syarat untuk menjadikan Pak Harto sebagai pahlawan sudah terpenuhi, tapi kita masih menunggu keputusan akhir Dewan Gelar,” ujar Gus Ipul saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (30/4).

Proses pengajuan nama-nama calon pahlawan nasional tidak sederhana. Nama-nama tokoh tersebut mesti melewati kajian historis, evaluasi rekam jejak, serta mempertimbangkan kontribusi mereka terhadap bangsa.

Gus Ipul mengungkapkan bahwa Soeharto dan Gus Dur masuk dalam daftar 10 tokoh yang diajukan TP2GP tahun ini.

“Ini masih tahap pembahasan. Dewan Gelar akan memberikan pertimbangan resmi sebelum Presiden memutuskan,” jelasnya.

Baca Juga:  Makan Gratis Bisa Jinakkan Amarah? BGN Yakin Bisa Redam Tawuran Pelajar

Soeharto, yang memimpin Indonesia selama 32 tahun, merupakan tokoh militer sekaligus politikus yang perannya masih menjadi perdebatan publik, terutama soal warisan Orde Baru. Sementara itu, Gus Dur, dikenal sebagai tokoh pluralisme dan demokrasi, masih dikenang luas karena langkah-langkah reformisnya selama masa transisi pasca-Orde Baru.

Jika keduanya disahkan, penetapan gelar ini akan menjadi langkah monumental dalam perjalanan rekonsiliasi sejarah bangsa—sekaligus mempertegas bahwa penilaian terhadap jasa tokoh tidak melulu terjebak dalam kontroversi masa lalu.

Berita Terkait

Legislator: Produk Impor Ilegal Jadi Ancaman Serius bagi UMKM
Indonesia Lanjutkan Pembicaraan Terkait Tarif Impor AS di Era Trump
Lemhannas Analisis Dampak Konflik Iran-Israel Terhadap Ketahanan Nasional dan Ekonomi RI
MBG Mentah Saat Libur Sekolah Belum Ada Keputusan Resmi
TNI AL Amankan Upaya Penyelundupan Puluhan Ribu Benih Lobster di Sumbawa
RUPST 2025: Lippo Karawaci Umumkan Direksi dan Komisaris Baru, Catat Kinerja Positif di 2024
Ketegangan Iran-Israel Bayangi Pasar, Sektor Energi dan Emas Jadi Sorotan
Rosan Roeslani: Investasi Diproyeksikan Jadi Lokomotif Baru Ekonomi Nasional
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 6 Agustus 2025 - 16:26 WIB

Legislator: Produk Impor Ilegal Jadi Ancaman Serius bagi UMKM

Selasa, 8 Juli 2025 - 14:30 WIB

Indonesia Lanjutkan Pembicaraan Terkait Tarif Impor AS di Era Trump

Kamis, 26 Juni 2025 - 13:44 WIB

Lemhannas Analisis Dampak Konflik Iran-Israel Terhadap Ketahanan Nasional dan Ekonomi RI

Kamis, 19 Juni 2025 - 09:37 WIB

MBG Mentah Saat Libur Sekolah Belum Ada Keputusan Resmi

Rabu, 18 Juni 2025 - 09:31 WIB

TNI AL Amankan Upaya Penyelundupan Puluhan Ribu Benih Lobster di Sumbawa

Berita Terbaru