Guncangan Kecil di Tengah Pesona Maluku: Gempa Seram Bagian Timur Mengingatkan Kerapuhan Alam

- Penulis Berita

Selasa, 29 April 2025 - 08:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Maluku

Maluku

mediarelasi.idSenin malam (28/4/2025), ketika langit Maluku perlahan membentangkan tabir bintang, suasana di Kabupaten Seram Bagian Timur mendadak berubah. Sebuah gempa bumi bermagnitudo 2,6 mengguncang kawasan ini tepat pada pukul 21.49 WIB, memberikan pengingat halus bahwa di balik keelokan alam Maluku, tersembunyi dinamika geologis yang aktif.

Berdasarkan laporan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berpusat di koordinat 3.20 Lintang Selatan dan 131.15 Bujur Timur. Titik gempa berlokasi sekitar 74 kilometer tenggara wilayah Seram Bagian Timur, dengan kedalaman 21 kilometer di bawah permukaan laut. Untungnya, getaran ini tergolong kecil dan tidak menimbulkan kerusakan maupun korban jiwa.

BMKG menambahkan bahwa informasi ini disampaikan secara cepat untuk kebutuhan mitigasi dini, sehingga data masih bisa diperbaharui seiring perkembangan pemantauan. Hingga kini, tidak ada laporan tentang dampak besar yang ditimbulkan.

Bagi masyarakat Maluku, yang hidup di gugusan kepulauan indah nan rawan bencana ini, fenomena seperti gempa bumi bukanlah hal asing. Mereka terbiasa berdampingan dengan alam yang sekaligus memberi kehidupan dan tantangan. Dari Laut Banda yang kaya hingga pegunungan di Pulau Seram, Maluku menyimpan kekayaan alam yang luar biasa, namun di saat bersamaan, menyimpan potensi kegempaan yang perlu selalu diwaspadai.

Baca Juga:  Setelah Ombak Menelan Tujuh Nyawa, Bengkulu Berjanji Menata Ulang Wisatanya

Maluku dan Dinamika Alamnya

Provinsi Maluku dikenal sebagai bagian dari Cincin Api Pasifik, jalur pegunungan bawah laut aktif yang menyebabkan aktivitas tektonik tinggi di wilayah ini. Sejarah mencatat, beberapa gempa besar pernah terjadi di Maluku, meninggalkan jejak luka sekaligus ketangguhan yang membentuk karakter masyarakatnya.

Namun, kehidupan di Maluku tak sekadar tentang bencana. Justru, di antara riak alam itu, tumbuh budaya, tradisi, dan semangat gotong royong yang kuat. Desa-desa di Seram Bagian Timur, misalnya, memperlihatkan wajah Maluku yang bersahaja—masyarakatnya hidup dari laut, hutan, dan ladang, serta tetap memegang erat adat istiadat nenek moyang.

Refleksi di Tengah Guncangan

Meskipun gempa kali ini tergolong ringan, momen tersebut menjadi pengingat penting akan perlunya edukasi mitigasi bencana di Maluku. Banyak desa terpencil yang masih minim akses informasi cepat tentang potensi bencana. Padahal, pemahaman sederhana tentang langkah darurat bisa menyelamatkan banyak nyawa.

Baca Juga:  "Ketika Label Tak Tertera, Hukum Menggedor Pintu UMKM Banjar"

Pemerintah daerah bersama BPBD setempat diharapkan terus menggencarkan program penyuluhan tentang kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi dan tsunami, terlebih mengingat posisi geografis Maluku yang rentan terhadap kedua bencana tersebut.

Memaknai Ketangguhan Maluku

Dalam setiap gempa kecil yang menggoyang Maluku, terselip kisah ketangguhan. Bagi penduduk Seram Bagian Timur, malam itu mungkin hanya berlalu dengan sedikit rasa waswas sebelum kembali larut dalam aktivitas malam hari.

Namun lebih dari sekadar laporan kegempaan, kejadian ini kembali mengingatkan semua pihak bahwa keindahan alam Maluku juga harus dijaga dengan kesiapan. Membina harmoni dengan alam, mengenali tanda-tandanya, serta membangun infrastruktur tangguh bencana menjadi PR bersama yang tidak bisa lagi ditunda.

Maluku tetaplah surga di timur Indonesia: laut biru yang dalam, pulau-pulau berbukit hijau, serta masyarakat hangat yang ramah kepada siapa pun yang datang. Dan seperti malam itu di Seram Bagian Timur, di tengah guncangan kecil yang hampir tak terasa, Maluku tetap berdiri tegak, menorehkan kisahnya sendiri tentang keindahan dan keteguhan.

Berita Terkait

Hari Kedua Bina Desa 2025: Kolaborasi Sehat, Literasi Hukum, dan Penguatan Petani
Bina Desa 2025 HMPSIH UNPAR: Mahasiswa Hukum Turun Tangan dalam Penguatan Sosial dan Hukum Masyarakat Desa
Angin Segar Transportasi Udara Jember: Bandara Notohadinegoro Aktif Lagi Mulai 17 Agustus
BMKG Catat Gempa M 4,7 di Laut Talaud, Sulawesi Utara
Pertamina Gandeng Seruni Bangun 16 Titik Air Bersih di Sragen
Pemprov DKI Ringankan Pajak Hotel dan Restoran, Bebaskan Denda PKB hingga Akhir Agustus
Kecelakaan Maut di Tol Pasuruan Probolinggo, Polisi Telusuri Penyebab Tabrakan
Polisi Kejar Lima Otak Utama Penyelundupan Benih Lobster Senilai Rp9,2 Miliar
Berita ini 127 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 19:01 WIB

Hari Kedua Bina Desa 2025: Kolaborasi Sehat, Literasi Hukum, dan Penguatan Petani

Rabu, 27 Agustus 2025 - 17:50 WIB

Bina Desa 2025 HMPSIH UNPAR: Mahasiswa Hukum Turun Tangan dalam Penguatan Sosial dan Hukum Masyarakat Desa

Senin, 11 Agustus 2025 - 13:43 WIB

Angin Segar Transportasi Udara Jember: Bandara Notohadinegoro Aktif Lagi Mulai 17 Agustus

Jumat, 4 Juli 2025 - 10:30 WIB

BMKG Catat Gempa M 4,7 di Laut Talaud, Sulawesi Utara

Kamis, 19 Juni 2025 - 09:50 WIB

Pertamina Gandeng Seruni Bangun 16 Titik Air Bersih di Sragen

Berita Terbaru