mediarelasi.id – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mencopot Ubedilah Badrun dari jabatannya sebagai Koordinator Program Studi (Koorprodi) Sosiologi tanpa pemberitahuan resmi. Keputusan ini menjadi sorotan karena Ubedilah dikenal sebagai akademisi vokal yang kerap mengkritik mantan Presiden Joko Widodo.
Ubedilah mengaku baru mengetahui pencopotannya setelah pihak rektorat melantik Pelaksana Tugas (Plt) Koordinator Prodi Sosiologi pada Jumat (24/1). Anehnya, ia tidak menerima Surat Keputusan (SK) ataupun pemberitahuan resmi terkait pencopotan tersebut. Keputusan ini hanya diumumkan melalui akun media sosial UNJ.
“Tiba-tiba ada pengumuman di media sosial UNJ, tanpa ada pemberitahuan atau SK. Dengan begitu, otomatis saya tidak lagi menjabat sebagai Koorprodi,” ujar Ubedilah, Senin (3/2).
Langkah UNJ ini menimbulkan berbagai spekulasi, terutama karena Ubedilah pernah melaporkan dugaan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang melibatkan keluarga Jokowi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Ubedilah Badrun Paralel dengan Kasus Hasto Kristiyanto?
Juru Bicara PDIP, Mohamad Guntur Romli, menilai pencopotan Ubedilah mirip dengan kasus yang menimpa Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, yang kini berstatus tersangka KPK. Ia menyebut bahwa sikap kritis Ubedilah terhadap pemerintahan Jokowi bisa menjadi alasan di balik pencopotannya.
“Sebelum Ubedilah, ada Sekjen Hasto yang dijadikan tersangka KPK. Ini seperti pola yang sama terhadap mereka yang vokal terhadap pemerintahan Jokowi dan keluarganya,” kata Guntur, Sabtu (1/2).
Guntur juga menyinggung laporan-laporan Ubedilah ke KPK terkait dugaan KKN keluarga Jokowi, yang hingga kini tidak mendapat tindak lanjut.
Rocky Gerung: Akademisi Kritis yang Dibungkam?
Pengamat politik Rocky Gerung turut menyoroti kasus ini. Ia menduga pencopotan Ubedilah tidak lepas dari sikapnya yang terus mengkritik Jokowi dan keluarganya, terutama terkait dugaan gratifikasi dan pencucian uang.
“Ubedilah memang dikenal kritis terhadap Jokowi sejak awal kepemimpinannya. Sikap oposisi akademiknya selalu berbasis pada data dan analisis yang kuat,” ujar Rocky melalui kanal YouTube-nya, Sabtu (1/2).
Rocky menilai Ubedilah sebagai akademisi yang kritis dan berani, yang melihat kebijakan pemerintah dari perspektif etik dan moral.
“Dia seorang oposisi berbasis akademis. Kritiknya adalah bentuk tanggung jawab moral terhadap kebijakan negara,” pungkasnya.
Hingga kini, pihak UNJ belum memberikan penjelasan resmi terkait pencopotan Ubedilah. Keputusan ini pun memunculkan pertanyaan: Apakah ini sekadar rotasi biasa atau ada motif politik di baliknya?